Sabtu, 12 Oktober 2013


MENGAPA HARUS  JUJUR ?


Alkisah. Ada sebuah toko bangunan cukup besar terletak di pinggiran kota. Toko itu lebih laris dibandingkan toko bangunan yang terletak di sebelah selatan dalam desa yang sama. Pada suatu malam, di toko yang laris tersebut terjadi pencurian. Kejadiannya baru diketahui pada pagi hari sekitar jam 08.00, karena biasanya pemilik toko dan karyawan datang, kemudian membuka tokonya jam 08.00.
Setelah mengetahui barang-barang di toko dicuri orang, pemilik melaporkan kepada polisi sebagai penanggung jawab keamanan wilayah tempat toko berada. Beberapa saat setelah laporan, polisi datang ke lokasi kejadian. Polisi meminta kepada pemilik dan para karyawan keluar dari toko tersebut. Kemudian polisi memasang garis atau tanda polisi, sehingga tak seorang pun diperbolehkan masuk melawati garis tersebut.
Ternyata polisi menggunakan alat deteksi sidik jari. Sudah maklum bagi kita bahwa sidik jari antara satu orang dengan yang lain berbeda-beda. Perbedaan inilah yang kemudian dimanfaatkan kepolisian untuk mencari data untuk mengungkap pelaku suatu kejadian. Dengan mengambil bekas sidik jari dari benda-benda yang terdapat di tempat kejadian, kepolisian dapat mengumpulkan data yang diperlukan untuk mengungkap pelaku pencurian.
Singkat cerita dari data yang diperoleh, polisi mencocokkan bekas sidik jari dengan beberapa orang yang dicurigai. Jarak sekitar satu bulan polisi berhasil dalam misinya. Pelaku pencurian terungkap dan dapat ditangkap.
Dari cerita tersebut terlintas dalam pikiran, wah betapa canggihnya alat deteksi yang dimiliki kepolisian. Kira-kira orang yang berpikiran seperti itu cukup banyak, orang heran dengan kecanggihan teknologi seperti itu. Kok bisa, benda yang dipegang seseorang beberapa saat yang silam dapat merekam sidik jari pemegangnya dan dapat menjadi alat bukti pada masa sesudahnya. Dari telaah cerita pencurian di atas, ada hal yang perlu kita renungkan:

Apakah hanya benda yang disentuh yang bisa menginformasikan kejadian?

Teknologi saat ini memang sudah maju atau canggih. Orang berhasil membuat alat perekam lumayan mutakhir. Di pesawat terbang, hotel, dan tempat-tempat setrategis lainnya dipasang alat perekam canggih. Kejadian di tempat itu dapat diketahui dengan waktu relatif cepat.
Ada lagi alat pelacak kejadian yang menimpa manusia atau makluk yang lain, yang kita kenal dengan alat visum. Dengan visum dapat ditarik kesimpulan bahwa seseorang mengalami kejadian tertentu. Dalam hal ini anggota manusia berperan sebagai objek pemeriksaan yang memberikan informasi tentang suatu kejadian.
Dalam ilmu agama lebih dari itu, anggota manusia tidak hanya berperan sebagai objek. Bahkan, anggota tubuh manusia dapat berperan sebagai subjek pemberi informasi atas kejadian selama hidupnya. Subhaana Allah, itulah salah satu bukti kuasa ilahi.  Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat Yasin:
اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلىَ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ أَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُأرْجُلُهُمْ بِمَاكَانُوْايَكْسِبُوْنَ .
Artinya: Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang mereka usahakan (Yaasin:65)

Adakah detektor lebih canggih dari alat yang dimiliki polisi?
Sampai saat ini terdapat alat penyadap atau perekam yang luar biasa, yah itu menurut pendapat kebanyakan orang. Akan tetapi, alat-alat sejenis itu masih mampu menjangkau area terbatas. Peralatan yang dipasang di tempat hanya dapat berfungsi atau mendeteksi dalam waktu dan tempat tertentu saja. Walau pun begitu, kita kagum dan mungkin saja bangga dengan teknologi dengan jangkauan seperti itu. Bagaimana jika ada perekam yang melebihi kecanggihannya, yang mampu merekam segala sesuatu. Benda yang tersentuh maupun tidak tersentuh, yang dekat maupun jauh. Apakah kita tidak lebih takjub atau lebih terperanga dengan kecanggihannya?
Peralatan hasil budaya manusia sudah sedemikian luar biasa kecanggihannya. Apalagi peralatan yang diciptakan oleh pencipta manusia dan segala yang ada. Tentunya, lebih di segala-galanya, dari segi jangkauan, ketelitian, kecepatan dan lain-lain. Allahuakbar walillahilhamdu.
Dalam ilmu Islam, adalah makhluk ciptaan Allah Yang Maha Kuasa yang diberi tugas khusus mencatat segala gerak-gerik manusia selama hidup di dunia, yaitu Malaikat Rokib dan Atid. Saat manusia jaga atau tidur, susah atau senang, sendirian atau bersama orang lain, di saat malam atau siang, dan segala yang dilakukan manusia pasti ditulis malaikat. Hasil catatan atau rekaman amal perbuatan manusia pasti sesuai. Ketepatannya tak dapat diragukan lagi. Mereka adalah ciptaan Allah yang bertugas khusus dalam bidangnya masing-masing.
Lebih dari itu, Allah Swt Dzat Yang Maha Mengetahui berfirman:

وَمَاتَكُوْنُ فِى شَأْنٍ وَمَا تَتْلُوْامِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلاَتَعْمَلُوْنَ مِنْ عَمَلٍ اِلاَّكُنَّاعَلَيْكُمْ شُهُوْدًااِذْتُفِيْضُوْنَ فِيْهِ وَمَايَعْزُبُ عَنْ رَّبِّكَ مِنْ مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى الأَرْضِ وَلاَفِى السَّمَاءِوَلاَاَصْغَرَمِنْ ذَلِكَ وَلاَاَكْبَرَاِلاَّفِى كِتَابٍ مُّبِيْنٍ (يونس : ٦١) 
Artinya:  Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya, tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Berdasarkan ayat di atas dapat diambil pengertian bahwa Allah Swt mengetahui segala hal, baik dhohir (tampak) maupun yang bathin (tidak kelihatan), yang besar maupun kecil, yang ada di langit maupun di bumi. Pemahaman inilah yang seharusnya selalu melekat dalam benak kita. Jika kita menyadari bahwa seluruh gerak-gerik kita selalu dalam rekaman malaikat dan dalam pantauan Dzat Yang Maha Mengetahui, akankah kita berlaku tidak jujur?
Ada analogi mengenai rekaman. Contoh kasus yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. Coba kita putar balik (retreat) waktu sekarang ini ke sekitar sepuluh tahun yang lalu. Ada cerita, seorang yang menunjukkan benda kecil kepada rekannya. Menurut dia, benda tersebut berisi data yang cukup banyak. Dia memberitahu kepada rekannya nama benda itu adalah  flashdisk. Pada waktu itu rekannya heran (kok bisa benda sekecil itu dapat memuat data yang cukup banyak), itulah tanya dalam hati.
Sepengetahuannya pada saat itu, yang dapat memuat data adalah kaset atau VCD yang ukurannya lebih besar bila dibandingkan flashdisk. VCD atau kaset itupun hanya dapat memuat data yang relatif sedikit, tak sebanyak yang diceritakan orang itu. Percaya atau tidak, pada kenyataannya demikian, setelah flashdisk dicolokkan ke komputer dapat berisi ratusan bahkan ribuan data dengan berbagai variasinya. Apalagi akhir-akhir ini ada flashdisk yang memuat data yang memuat sekian banyak data. Jika rekaman data dalam flashdisk diputar memerlukan waktu cukup lama. Ini hasil budaya atau ciptaan manusia. Bagaimana kemampuan penyimpan data ciptaan Allah Swt? Alangkah dahsyatnya!?

Memilih jujur atau bohong?

Banyak manusia lupa, atau tidak menyadari bahwa ada rekaman super canggih yang selalu merekam seluruh kegiatannya. Kelalaian ini biasanya mendorong manusia berbohong dengan berbagai motif. Ada yang berbohong untuk menyelamatkan diri dari hukuman pengadilan, ada yang untuk mendapatkan sejumlah uang, ada yang untuk mempercepat mendapatkan kedudukan dan lain-lain.
Dalam dunia pendidikan, kejujuran harus ditumbuhkembangkan. Ada banyak alasan mengapa lembaga pendidikan perlu membiasakan kejujuran. Di antaranya, jika pada saat pertumbuhan dan perkembangan tidak berlaku jujur, maka siswa mungkin berlanjut pada fase berikutnya. Belajar sekarang akan diketahui hasilnya sekitar sepuluh tahunan yang akan datang. Ketidakjujuran, dalam masa pendidikan, mengarahkan peserta didik bersikap tidak bertanggung jawab dan kurang mandiri. Padahal, tanggung jawab dan kemandirianlah yang diperlukan generasi muda dalam meneruskan estafet kepemimpinan bangsa dan negara di masa datang.
Ketidakjujuran tentu menyebabkan kerugian terhadap pelaku dan orang lain. Dalam agama, pembohong dapat dikategorikan sebagai orang yang tidak bertaqwa. Mereka tidak memiliki ketidaksadaran akan adanya perekam sepanjang hidup, yakni malaikat Rokib dan Atid. Pembohong lupa bahwa anggota tubuh manusia atau benda-benda yang ada di alam ini dapat menginformasikan peristiwa yang terjadi dalam waktu tertentu. Kelalaian dan ketidaksadaran inilah yang sering mendorong manusia tidak jujur. Padahal, kebohongan menyebabkan kehancuran pelakunya sendiri, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Nabi Muhammad Saw bersabda:
اِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى اِلىَ الْبِرِّ وَاِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى اِلىَ الْجَنَّة وَاِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا , وَاِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى اِلىَ الْفُجُوْرِوَاِنَّ الْفُجُوْرَيَهْدِى اِلىَ النَّارِوَاِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا . (الجامع الصغير  الجزء الأوّل : ٨۲)
Artinya: Sesungguhnya jujur itu menunjukkan (mengarahkan) kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu mengarahkan kepada surga, sesungguhnya orang yang berbuat jujur akan dicatat oleh Allah sebagai orang yang jujur. Sesungguhnya bohong itu mengarahkan kepada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu mengarahkan kepada neraka, sesungguhnya orang yang berbohong akan dicatat oleh Allah sebagai pembohong.
Seandainya kita dapat menyaksikan malaikat pencatat amal, mungkin saja kita mengetahui bahwa malaikat tersenyum atau  tertawa geli. Karena malaikat melihat kelucuan manusia yang lupa, manusia berbohong kepada orang lain dengan perkiraan tak ada yang mengetahui kebohongannya. Padahal, malaikat selalu menulis apa saja yang dilakukan manusia, anggota tubuhnya akan bersaksi di hari Kiamat, dan alam juga bersaksi. Anggapan manusia bahwa tidak ada yang mengetahui perbuatan dosa atau maksiat adalah salah.
Walhasil, pembohong adalah orang yang tak sadar. Tidak menyadari bahwa ada perekam super cangih sepanjang hidup, dan kemudian kebohongan itu harus dipertanggungjawaban di yaumul hisab. Yuk, kita jujur dalam kehidupan. Wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar