MENGAPA HARUS JUJUR ?
Alkisah.
Ada sebuah toko bangunan cukup besar terletak di pinggiran kota. Toko itu lebih
laris dibandingkan toko bangunan yang terletak di sebelah selatan dalam
desa yang sama. Pada suatu malam, di toko yang laris tersebut terjadi
pencurian. Kejadiannya baru diketahui pada pagi hari sekitar jam 08.00, karena
biasanya pemilik toko dan karyawan datang, kemudian membuka tokonya jam 08.00.
Setelah
mengetahui barang-barang di toko dicuri orang, pemilik melaporkan kepada polisi
sebagai penanggung jawab keamanan wilayah tempat toko berada. Beberapa saat
setelah laporan, polisi datang ke lokasi kejadian. Polisi meminta kepada
pemilik dan para karyawan keluar dari toko tersebut. Kemudian polisi memasang
garis atau tanda polisi, sehingga tak seorang pun diperbolehkan masuk melawati
garis tersebut.
Ternyata
polisi menggunakan alat deteksi sidik jari. Sudah maklum bagi kita bahwa sidik
jari antara satu orang dengan yang lain berbeda-beda. Perbedaan inilah yang
kemudian dimanfaatkan kepolisian untuk mencari data untuk mengungkap pelaku
suatu kejadian. Dengan mengambil bekas sidik jari dari benda-benda yang terdapat
di tempat kejadian, kepolisian dapat mengumpulkan data yang diperlukan untuk
mengungkap pelaku pencurian.
Singkat
cerita dari data yang diperoleh, polisi mencocokkan bekas sidik jari dengan
beberapa orang yang dicurigai. Jarak sekitar satu bulan polisi berhasil dalam
misinya. Pelaku pencurian terungkap dan dapat ditangkap.
Dari
cerita tersebut terlintas dalam pikiran, wah betapa canggihnya alat
deteksi yang dimiliki kepolisian. Kira-kira orang yang berpikiran seperti itu
cukup banyak, orang heran dengan kecanggihan teknologi seperti itu. Kok
bisa, benda yang dipegang seseorang beberapa saat yang silam dapat merekam
sidik jari pemegangnya dan dapat menjadi alat bukti pada masa sesudahnya. Dari
telaah cerita pencurian di atas, ada hal yang perlu kita renungkan:
Apakah
hanya benda yang disentuh yang bisa menginformasikan kejadian?
Teknologi
saat ini memang sudah maju atau canggih. Orang berhasil membuat alat perekam lumayan
mutakhir. Di pesawat terbang, hotel, dan tempat-tempat setrategis lainnya
dipasang alat perekam canggih. Kejadian di tempat itu dapat diketahui dengan
waktu relatif cepat.
Ada
lagi alat pelacak kejadian yang menimpa manusia atau makluk yang lain, yang kita
kenal dengan alat visum. Dengan visum dapat ditarik kesimpulan bahwa seseorang
mengalami kejadian tertentu. Dalam hal ini anggota manusia berperan sebagai
objek pemeriksaan yang memberikan informasi tentang suatu kejadian.
Dalam
ilmu agama lebih dari itu, anggota manusia tidak hanya berperan sebagai objek.
Bahkan, anggota tubuh manusia dapat berperan sebagai subjek pemberi informasi
atas kejadian selama hidupnya. Subhaana Allah, itulah salah satu bukti
kuasa ilahi. Sebagaimana
firman Allah Swt dalam surat Yasin:
اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ
عَلىَ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ أَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُأرْجُلُهُمْ
بِمَاكَانُوْايَكْسِبُوْنَ .
Artinya:
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan
mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang mereka usahakan
(Yaasin:65)
Adakah
detektor lebih canggih dari alat yang dimiliki polisi?
Sampai
saat ini terdapat alat penyadap atau perekam yang luar biasa, yah itu
menurut pendapat kebanyakan orang. Akan tetapi, alat-alat sejenis itu masih
mampu menjangkau area terbatas. Peralatan yang dipasang di tempat hanya dapat
berfungsi atau mendeteksi dalam waktu dan tempat tertentu saja. Walau pun
begitu, kita kagum dan mungkin saja bangga dengan teknologi dengan jangkauan
seperti itu. Bagaimana jika ada perekam yang melebihi kecanggihannya, yang
mampu merekam segala sesuatu. Benda yang tersentuh maupun tidak tersentuh, yang
dekat maupun jauh. Apakah kita tidak lebih takjub atau lebih terperanga dengan
kecanggihannya?
Peralatan
hasil budaya manusia sudah sedemikian luar biasa kecanggihannya. Apalagi
peralatan yang diciptakan oleh pencipta manusia dan segala yang ada. Tentunya,
lebih di segala-galanya, dari segi jangkauan, ketelitian, kecepatan dan
lain-lain. Allahuakbar walillahilhamdu.
Dalam
ilmu Islam, adalah makhluk ciptaan Allah Yang Maha Kuasa yang diberi tugas
khusus mencatat segala gerak-gerik manusia selama hidup di dunia, yaitu
Malaikat Rokib dan Atid. Saat manusia jaga atau tidur, susah atau senang,
sendirian atau bersama orang lain, di saat malam atau siang, dan segala yang
dilakukan manusia pasti ditulis malaikat. Hasil catatan atau rekaman amal
perbuatan manusia pasti sesuai. Ketepatannya tak dapat diragukan lagi. Mereka
adalah ciptaan Allah yang bertugas khusus dalam bidangnya masing-masing.
Lebih
dari itu, Allah Swt Dzat Yang Maha Mengetahui berfirman:
وَمَاتَكُوْنُ فِى شَأْنٍ وَمَا تَتْلُوْامِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ
وَلاَتَعْمَلُوْنَ مِنْ عَمَلٍ اِلاَّكُنَّاعَلَيْكُمْ شُهُوْدًااِذْتُفِيْضُوْنَ
فِيْهِ وَمَايَعْزُبُ عَنْ رَّبِّكَ مِنْ مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى الأَرْضِ
وَلاَفِى السَّمَاءِوَلاَاَصْغَرَمِنْ ذَلِكَ وَلاَاَكْبَرَاِلاَّفِى كِتَابٍ
مُّبِيْنٍ (يونس : ٦١)
Artinya: Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak
membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan,
melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya, tidak luput
dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di
langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu,
melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).
Berdasarkan
ayat di atas dapat diambil pengertian bahwa Allah Swt mengetahui segala hal,
baik dhohir (tampak) maupun yang bathin (tidak kelihatan), yang
besar maupun kecil, yang ada di langit maupun di bumi. Pemahaman inilah yang
seharusnya selalu melekat dalam benak kita. Jika kita menyadari bahwa seluruh
gerak-gerik kita selalu dalam rekaman malaikat dan dalam pantauan Dzat Yang Maha
Mengetahui, akankah kita berlaku tidak jujur?
Ada analogi
mengenai rekaman. Contoh kasus yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. Coba
kita putar balik (retreat) waktu sekarang ini ke sekitar sepuluh tahun
yang lalu. Ada cerita, seorang yang menunjukkan benda kecil kepada rekannya.
Menurut dia, benda tersebut berisi data yang cukup banyak. Dia memberitahu
kepada rekannya nama benda itu adalah flashdisk.
Pada waktu itu rekannya heran (kok bisa benda sekecil itu dapat memuat
data yang cukup banyak), itulah tanya dalam hati.
Sepengetahuannya
pada saat itu, yang dapat memuat data adalah kaset atau VCD yang ukurannya
lebih besar bila dibandingkan flashdisk. VCD atau kaset itupun
hanya dapat memuat data yang relatif sedikit, tak sebanyak yang diceritakan orang
itu. Percaya atau tidak, pada kenyataannya demikian, setelah flashdisk
dicolokkan ke komputer dapat berisi ratusan bahkan ribuan data dengan berbagai
variasinya. Apalagi akhir-akhir ini ada flashdisk yang memuat data yang memuat
sekian banyak data. Jika rekaman data dalam flashdisk diputar
memerlukan waktu cukup lama. Ini hasil budaya atau ciptaan manusia. Bagaimana
kemampuan penyimpan data ciptaan Allah Swt? Alangkah dahsyatnya!?
Memilih
jujur atau bohong?
Banyak
manusia lupa, atau tidak menyadari bahwa ada rekaman super canggih yang selalu
merekam seluruh kegiatannya. Kelalaian ini biasanya mendorong manusia berbohong
dengan berbagai motif. Ada yang berbohong untuk menyelamatkan diri dari hukuman
pengadilan, ada yang untuk mendapatkan sejumlah uang, ada yang untuk
mempercepat mendapatkan kedudukan dan lain-lain.
Dalam
dunia pendidikan, kejujuran harus ditumbuhkembangkan. Ada banyak alasan mengapa
lembaga pendidikan perlu membiasakan kejujuran. Di antaranya, jika pada saat
pertumbuhan dan perkembangan tidak berlaku jujur, maka siswa mungkin berlanjut
pada fase berikutnya. Belajar sekarang akan diketahui hasilnya sekitar sepuluh
tahunan yang akan datang. Ketidakjujuran, dalam masa pendidikan, mengarahkan
peserta didik bersikap tidak bertanggung jawab dan kurang mandiri. Padahal,
tanggung jawab dan kemandirianlah yang diperlukan generasi muda dalam
meneruskan estafet kepemimpinan bangsa dan negara di masa datang.
Ketidakjujuran
tentu menyebabkan kerugian terhadap pelaku dan orang lain. Dalam agama, pembohong
dapat dikategorikan sebagai orang yang tidak bertaqwa. Mereka tidak memiliki
ketidaksadaran akan adanya perekam sepanjang hidup, yakni malaikat Rokib dan
Atid. Pembohong lupa bahwa anggota tubuh manusia atau benda-benda yang ada di
alam ini dapat menginformasikan peristiwa yang terjadi dalam waktu tertentu.
Kelalaian dan ketidaksadaran inilah yang sering mendorong manusia tidak jujur.
Padahal, kebohongan menyebabkan kehancuran pelakunya sendiri, baik dalam jangka
pendek maupun jangka panjang. Nabi Muhammad Saw bersabda:
اِنَّ
الصِّدْقَ يَهْدِى اِلىَ الْبِرِّ وَاِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى اِلىَ الْجَنَّة
وَاِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا , وَاِنَّ
الْكَذِبَ يَهْدِى اِلىَ الْفُجُوْرِوَاِنَّ الْفُجُوْرَيَهْدِى اِلىَ
النَّارِوَاِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا . (الجامع الصغير الجزء
الأوّل : ٨۲)
Artinya: Sesungguhnya jujur itu
menunjukkan (mengarahkan) kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu
mengarahkan kepada surga, sesungguhnya orang yang berbuat jujur akan dicatat
oleh Allah sebagai orang yang jujur. Sesungguhnya bohong itu mengarahkan kepada
kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu mengarahkan kepada neraka,
sesungguhnya orang yang berbohong akan dicatat oleh Allah sebagai pembohong.
Seandainya
kita dapat menyaksikan malaikat pencatat amal, mungkin saja kita mengetahui
bahwa malaikat tersenyum atau tertawa
geli. Karena malaikat melihat kelucuan manusia yang lupa, manusia berbohong
kepada orang lain dengan perkiraan tak ada yang mengetahui kebohongannya.
Padahal, malaikat selalu menulis apa saja yang dilakukan manusia, anggota
tubuhnya akan bersaksi di hari Kiamat, dan alam juga bersaksi. Anggapan manusia
bahwa tidak ada yang mengetahui perbuatan dosa atau maksiat adalah salah.
Walhasil, pembohong
adalah orang yang tak sadar. Tidak menyadari bahwa ada perekam super cangih
sepanjang hidup, dan kemudian kebohongan itu harus dipertanggungjawaban di yaumul
hisab. Yuk, kita jujur dalam kehidupan. Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar